Selasa, 14 Juni 2016

Bercinta dengan Buku



                                       

 Bercinta tak melulu dengan sesama, teknologi cinta yang bermacam rupa menghasilkan hubungan timbal balik percintaan antar dimensi, kehidupan, dan satuan. Percintaan makhluk dengan Tuhan yang menghubungkan dimensi materi dengan dimensi tak terhingga, menjadikan jarak hampa yang begitu mesra. Di Bali, cinta yang melewati batasan kehidupan, bertumpah ruah, antara manusia dengan alam dan leluhurnya, menghadirkan kesan toleran lintas kehidupan. Lalu pada saya, cinta bekerja sedemikian intens ,berlarian dari diri saya ke buku-buku, menjalin ikatan antar satuan dan membangun ruang pertemuan untuk makhluk bernyawa dengan yang tidak.
 Tak ada urusan di dunia yang tak bisa diselesaikan dengan nuansa cinta. Termasuk urusan manusia dengan buku-bukunya. Saya tak begitu saja jatuh cinta pada buku, tentu ada asal-usulnya. Ada perkenalan, usaha untuk akrab, bahkan kadang timbul rasa bosan. Bukan bosan sebenarnya, hanya ingin mangkir dari rasa ingin tahu yang melelahkan mata, dan memang kadang cinta juga butuh jarak.
Awal perkenalan dengan buku, bisa saja semenjak saya lahir di dunia. Dibukakan buku yang paling luas halamannya;dunia. Terkesan naif, tapi saya menganggap dunia memanglah sebuah buku, dan hari ini adalah salah satu halamannya saja. Entah berapa tebalnya, mungkin tak terbatas. Kemampuan manusia untuk membacanya yang terbatas.
Perkenalan tak sesingkat itu, masuk pada fase menjadi anak sekolahan, ketika rasa ingin tahu semakin besar. Jika saya bisa membaca pada umur 6 tahun, maka pasti semenjak itu saya mulai membolak-balikkan buku. Tentu bacaan anak-anak, seperti Bobo, atau buku bacaan ketika saya masih Taman Kanak-kanak, saya masih ingat namanya;Tiko. Saya tak ingat persis gambar dan cerita apa saja yang ada di dalamnya, pasti tak berbeda jauh dengan majalah anak-anak lain, cerita fabel, cerita tentang desa-desa, dan gambar-gambar dengan warna meriah.
Masa sekolah dasar, saya belum sadar bahwa saya punya ketertarikan dengan buku. Masih kelas 3 SD kala itu, ketika saya mulai penasaran dengan buku apa saja yang terlihat di depan mata, lalu membolak-balikkan halamannya dengan acak, mencari apa yang menarik. Salah satunya adalah majalah ibu saya, majalah untuk pegawai negeri, majalah MEDIA. Saya lupa apa kepanjangan dari judul majalah tersebut, seingat saya MEDIA adalah sebuah akronim.
Rubrik cerpen dan puisi yang selalu saya baca, saya tak paham keseluruhan, saya hanya membaca kala itu, tapi saya merasakan ada sesuatu yang asik dalam kepala saya. Memang absurd sekali, namun urusan saya kala itu hanyalah membaca saja, tanpa aturan dan keharusan untuk memahami isinya. Salah satu cerpen yang saya ingat adalah cerpen yang menceritakan kisah seorang karyawan rendahan yang tiba-tiba diberhentikan secara sepihak oleh atasannya, judulnya PHK, dan pengarangnya seorang pegawai negeri yang sayang saya lupa namanya. Beberapa bulan lalu saya mengarang cerpen dengan tema yang sama, niatnya untuk mengingat si pengarang, sekaligus minta maaf karena tidak mengingat namanya.
Masih sekitar periode sekolah dasar, dan belum terbangun sungguh-sungguh waktu itu, kalau buku memang sesuatu yang menarik. Lagi-lagi saya hanya membolak-balikkan halaman buku, saya hanya menuruti rasa penasaran. Mulai dari buku kisah pewayangan milik bapak, resep memasak di rak dapur, bahkan kamus bahasa inggris bapak jadi pelampiasan, padahal waktu itu masih kelas 3 SD, dan pelajaran Bahasa Inggris baru diajarkan pada kelas 4. Tentu saja saya tak paham, namun belakangan ini saya sadar, dari situ mungkin saya mulai mengenali bahasa asing, dan bukan kesia-siaan jika waktu itu membolak-balikkan kamus. Saya tak berhenti di kamus, yang berikutnya adalah buku primbon karangan Ranggawarsita, bisa ditebak apa yang saya dapatkan ketika membaca buku itu, ya, tidak dapat apa-apa kecuali teguran dari bapak dengan alasan pamali, jika masih kecil membaca buku primbon. Isi keseluruhan menggunakan bahasa Jawa krama inggil-krama yang paling halus-, dan bahasa Kawi, yaitu bahasa Jawa Kuno. Mungkin itu yang dimaksud pamali, karena toh mau dibaca seperti apa, anak kecil tidak akan paham dengan maksud dari buku tersebut.
Ketika SMP dan SMA, saya mulai berjarak dengan buku-buku. Semakin jarang intensitas pertemuan antara kami, hanya sempat membaca novel remaja berjudul Lupus milik kakak saya selain itu mungkin tak ada lagi, sedang ingin agak nakal waktu itu. Bahkan buku pelajaran juga jarang saya sentuh. Barulah ketika memasuki universitas, saya bertemu lagi dengan buku-buku.
Seperti kangen, dan seperti kutu yang teramat senang bertemu dengan buku-buku, setiap hari hanya dengan buku. Kuliah di Fakultas Teknik dan seharusnya membaca buku algoritma, trigonometri, teori metalurgi, buku statika, atau yang lain, saya justru membaca buku fiksi. Tetralogi Pulau Buru, karangan Pramoedya mejadi titik balik cinta antara saya dan buku. Ada sesuatu hal yang membuat saya merinding tiap kali membaca, mungkin setelah sekian lama tak pernah sungguh-sungguh membaca, dan kisahnya yang diramu begitu apik. Juga novel lain, seperti Arus Bawah karya Emha Ainun Nadjib, yang begitu luas dan membawa pada kisah-kisah lampau.
Tak ada yang salah dari hubungan manusia dan buku, jika ada hal buruk yang ditimbulkan kemudian, hanya manusia saja yang berulah. Perlu diingat bahwa setiap apa pun di dunia pasti berbahaya, jika tak dikelola dengan tepat. Bahkan mulai berpikir adalah suatu potensi bahaya.
Buku adalah guru dan kawan untuk berlatih berpikir, membangun pola pikir, dan kritis terhadap setiap pengetahuan baru. Mendorong setiap pembacanya untuk mencari tahu. Bukankah penasaran lalu mencari tahu adalah awal dari sikap kritis ? Berani memverifikasi atas apa pun yang baru, dan penasaran tentang apa itu kebenaran, semua saya latih lewat kebiasaan membaca buku. Ada beberapa hal yang selalu menarik saraf keingintahuan di kepala saya, ketika membaca buku. Salah satunya adalah berbagai kenyataan yang terhampar di tiap halaman buku. Merangsang imajinasi di alam pikiran, tentang situasi ketika buku itu dituliskan dan kemungkinan momen yang terjadi kala itu.
Sebuah buku atau tulisan merupakan puncak peradaban pemikiran dari penulisnya. Silahkan anti terhadap buku, tapi tindakan penghancuran adalah berlebihan. Seperti hubungan saya dengan buku, hubungan pembaca lain dengan bukunya adalah hubungan cinta, rasa ingin kenal lebih jauh dengan jendela kenyataan yang tertulis di dalamnya. Buku hanya alat input, dan manusia yang berkewajiban untuk mengolah input sedemikian rupa agar output-nya berguna bagi sesama.
Saya rasa, menjadi takut lantaran pemikiran yang dituangkan dalam suatu buku dianggap berbahaya, kemudian berusaha mencegah penyebar luasan buku tersebut, itu hanya tindakan sempit dan efeknya juga berjangka pendek, walaupun tindakan tersebut sah di mata hukum. Buku akan selalu dibaca dan terbaca, entah itu dianggap berbahaya atau tidak, tindakan penghancuran buku hanya bisa berhasil jika manusia sudah tidak memerlukan peradaban.

Jumat, 22 April 2016

Safari ke Belantara Hukum



TN. Baluran (zhafiratrans.co.id)
            Safari identik dengan perjalanan yang menyenangkan, dengan mobil kap terbuka dan melihat kiri kanan penuh dengan ekosistem yang masih terjaga. Ke belantara? Belantara lebih cocok digunakan untuk hutan yang benar-benar liar dan rimbun. Tapi, kenapa kali ini belantara digunakan sebagai pasangan hukum. Belantara Hukum. Apa karena hukum sudah jadi liar dan rimbun, dengan politisasi yang tambal sulam. Atau memang lebih luas lagi, kehidupan memanglah sebuah belantara yang liar dan penuh mitos. Jawab di hati masing-masing.
            Menengok praktek hukum sekarang, dari sudut pandang awam, pasti terlihat lebih banyak praktek hukum yang tumpul ke atas tajam ke bawah. Seperti itukah memang hukum? Atau ekspektasi awam saja yang berlebihan tentang hukum, yang menganggap hukum adalah barang suci, yang bisa ditelaah mentah bersama kulitnya. Apa memang hukum adalah jalan yang sudah pasti kebenarannya?
            “Jalan apapun yang kau tempuh, lurus ataupun berkelok-kelok. Ingatlah bahwa selalu ada kubangan di setiap jalan itu.” – Amongraga. Serat Centhini
            Mari kita kembali pada idiom Jawa Kuno, dari Amongraga, bahwa pada kenyataannya, setiap apapun pasti punya kubangannya sendiri-sendiri. Kesucian hanya milik orang-orang yang memperoleh ilham dari langit, dan langit itu sendiri. Jadi, masih menganggap bahwa hukum itu bersih dan menjamin setiap keadilan ? Tentu bisa saja iya, jika hukum yang dimaksud berpihak pada keadilan. Jika tidak ? Maka jangan gunakan lagi adagium ‘setiap orang sama di mata hukum’.
            Dalam ilmu hukum tentu terdapat banyak asas-asas. Asas utilitas, yang memungkinkan seseorang tidak terkena penegakan hukum jika melakukan penyimpangan, karena jika sampai seseorang tersebut tersangkut kasus, akan berdampak pada runtuhnya negara. Asas praduga tak bersalah, yang memosisikan hakim sebagai satu-satunya pengambil keputusan atas penetapan tersangka, walaupun bukti sudah menunjukkan indikasi. Lalu berbagai asas lainnya yang tertulis dalam buku-buku pengantar ilmu hukum.
            Seperti yang sudah saya tulis di atas, hukum pidana dan perdata pada umumnya berbeda dengan hukum gravitasi, hukum Newton, hukum-hukum temuan Cengel tentang Termodinamika. Ilmu hukum pidana dan perdata bukanlah ilmu eksak, dia bisa saja berubah dan tidak bersifat klinis. Memiliki tingkat relatifitas yang jauh lebih tinggi, tergantung siapa yang menggunakan dan pada siapa si hukum berpihak. Maka jangan heran melihat potret hukum di negara yang berlaku seperti anak perusahaan, jika praktek hukum terlihat tumpul ke atas tajam ke bawah. Dan jangan heran jika para pekerja hukum tetap kekeuh berkampanye ‘semua orang sama di mata hukum’, itu hanya cara berpolitik dalam hukum. Karena hukum memang dijalankan dengan politik hukum, yang keliru adalah jika terjadi politisasi hukum.
            Kita tentu punya persepsi lain-lain tentang hukum. Tapi yang lebih penting, berhentilah menganggap bahwa hukum itu suci. Jangan terlalu percaya dengan mantra-mantra hukum yang tertulis di buku pengantar ilmu hukum. Karena kenyataan akan selalu berbeda dengan tulisan. Hukum akan adil jika memang berpihak pada keadilan, hukum akan benar-benar ditegakkan, jika benar sudah ditegakkan. Tak ada lagi kebenaran dari sudut pandang lain-lain, kecuali dari kebenaran. Dan rakyat, adalah komisaris jendral di negaranya. Tampuk kekuasaan tertinggi dalam sebuah negara, berhentilah mengigau tentang kesucian hukum, karena hukum yang sekarang berjalan belum tentu berpihak padamu. Biarkan negara ini runtuh jika langit menghendakinya, kau sudah tahu bahwa hukum dan dunia adalah belantara. Manusia hanya pencari kebenaran di tengah belantara, yang ada padanya barulah kebenaran yang masih bisa dipertanyakan. Ingat, di atas hukum masih ada etika..
            “Salus populi suprema lex : keselamatan rakyat adalah hukum yang paling tinggi, lebih tinggi dari konstitusi.”

“Sekalian masih tersihir hawa panas materi
Lengah dengan diri sendiri, lali dengan duka dan cita kehidupan
Diam, dan tak melawan!
Maka nanti saat kau bangun
Terjunlah, pada pergulatan dengan dirimu sendiri
dan medan pertempuran dengan penguasa haus kuasa
Biarkan sayup suara ini didayung angin peradaban
terbaca oleh mereka yang sadar
bahwa serakah bukanlah mental.”
( di Belantara, 19/04/’16 )

Selasa, 12 April 2016

LAWAN !!



Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata : Lawan !
(Penggalan puisi "Peringatan" Wiji Tukul)

   Siapa melawan siapa? Siapa melawan apa ? Melawan penguasa ? Siapa penguasanya ? Apakah cuma satu lapis penguasanya ? Pertanyaan kemudian menjadi rancu, begitu banyak peran pendukung yang telah sukses merancukan pertanyaan di atas. Manusia-manusia dewa juga yang ambil peran di dalamnya, mereka bersekongkol dengan tingkatan di atasnya, seperti konspirasi Sri Kresna dengan Bathara Guru, yang saling menyembunyikan rahasia kehidupan, yang sesungguhnya sederhana.
   Pada zaman Pak Wiji, terlihat jelas birokrasi mana yang harus diseimbangkan, agar tak berlarut dalam ketimpangan. Atau, kalau mau kembali ke masa lalu, tahun 1906-1917, ketika organisasi pribumi masih dengan usahanya, mereka pun mempunyai rumus yang jelas bahwa musuhnya setidak-tidaknya ada dua : adalah Eropa dengan mental kolonialismenya dan pribumi yang mengakui bahwa kolonialisme adalah suatu sistem yang diridhoi Tuhan. Pada masa-masa itu, politik sudah bisa dikatakan kompleks. Hanya saja, masih jelas bahwa musuhnya adalah kolonial.
   Masa kini, sudah bukan kompleks, tapi rancu. Tentu masih terpola, tapi dengan aritmetika yang lebih bertingkat. Sayangnya, karena semakin banyak tingkatan yang harus disusun untuk menemukan pola, orang dibikin malas untuk mengenali pola seperti apa yang ada didepannya. Ditambah alergi dengan politik, karena politik sudah terkesan seperti kata yang penuh tipu daya. Padahal, kehidupan mana yang tak berpautan dengan politik, ketika orang mengakui bahwa si A adalah penguasa dari kaumnya, itu adalah politik. Jika disederhanakan, ketika saraf di tubuh tunduk dan mengakui kepemimpinan otak, itu merupakan politik. Yang membedakan sekarang adalah, politik sehat dan politik sakit. Dan politik sakit adalah yang paling banyak, sehingga politik sehat digeneralisasi jadi politik sakit juga.
   Sistem pun dibikin jadi demikian rumit, dalam hal apa saja. Mulanya untuk memudahkan pengelompokan, namun akhirnya jadi patokan dan salah kaprah. Yang kini, melahirkan beberapa pihak yang tak ingin terlibat suatu sistem, ataupun organisasi. Orang jadi malas untuk sekedar berorganisasi, alasannya sistem. Sistem memang akan menghasilkan sistem yang lain, karena tubuh manusia pun juga kumpulan sistem dan organ, yang bekerja satu dan satunya, membuahkan sistem lain bernama metabolisme, lalu organ satu dan satunya juga membentuk kumpulan organ yang disebut organisasi badan secara utuh, untuk kemudian diberi nama si A, si B, dll. Lagi-lagi, kehidupan mana yang tak terlibat dalam suatu sistem dan organisasi, ketika ada perbincangan antara dua orang, itu saja sudah termasuk berorganisasi. Pada akhirnya, setiap pribadi berhak untuk memilih bentuk organisasi yang dikehendakinya. Selama itu membawa kebaikan untuk sesamanya. Sungguh, telah bertumpuk-tumpuk kekhawatiran yang salah tempat, hanya karena ilusi pengetahuan yang disebarkan oleh beberapa manusia, yang menganggap dirinya dewa, adikuasa, dan ahli mencuri fakta.
   Jangan lelah untuk melawan, tanyakan pada fatwa hati masing-masing, siapa yang harus dilawan. Jangan bermanja-manja dengan romansa kotak yang mereka ciptakan. Lawan pertamamu adalah dirimu sendiri, lalu akan engkau temukan lawan berikutnya. 



Orang Bodoh dan Anaknya

Hei ! Anakku
Cepat besar kau
Aku orang tuamu
Merawatmu dengan susu terbaik
Dengan penitipan anak kelas parlente
Rumah untukmu tidur setiap malam
Sudah ku hias dengan gelimang dunia

Hei ! Anakku
Nanti , jika kau besar nanti
Berpendidikanlah kau
Jangan bosan menghafal teori mencari uang
Amankan namamu dengan gelar-gelar
Kalau perlu gelar yg berbau agama
Cukuplah kau dengan baunya saja

Hei ! Anakku
Nanti, jika kau besar nanti
Beribadahlah dengan rajin
Tapi jangan lupa pekerjaanmu
Oh , bukan bukan
Bukan, terbalik rupanya
Kerja rajin, tapi jangan lupa ibadahmu

Hei ! Anakku
Nanti, jika kau besar nanti
Sukseslah kau dalam studi dan spekulasi
Tak usah bergabung dengan perjuangan kelas teri
Sibukkan dirimu dengan gawai dan layar imaji
Jika eksistensimu diakui
Jodoh dan rejeki jelas mengikuti

Hei ! Anakku
Nanti, jika kau besar nanti
Urusanmu hanya bagaimana perutmu bisa terisi
Juga kantong syahwatmu bisa terpenuhi
Tidak dengan yang lain
Hiduplah kau, Anakku
Jaya selalu
Semoga, kau tak segera bertemu mati
(27/03/16)

Jumat, 25 Desember 2015

Arus Baru

    

   Sebentar lagi tahun baru. Sudah terbayang ramenya, atau mungkin macetnya. Terbayang juga tahun baru jalan kemana, sama siapa, yolandaa....hehehu. Atau malah susah, belum punya bayangan? Tenang, tahun baru ya tahun baru kok, ya wis kayak tahun  baru yg lalu-lalu.
     Membahas yg berbau tentang baru, termasuk baju baru, tahun baru, gadget baru, dan sebagainya, sebenarnya harus nggak sih itu? Primer atau sekunder? Atau malah tersier? Ya tergantung, tiap individu pasti punya pendapat, rasanya kok kurang bermanfaat kalau jadi bahan debat.
     Tapi, bagaimana kalau istilah 'baru' sudah menjadi kecenderungan, gaya hidup, misal menjadi salah satu faktor penunjang percaya diri, atau metode untuk gengsi-gengsian? Ini yg mengganjal, masak iya mau nurutin yg baru terus? Layo tidak ada habisnya to yo. Paling nanti kalau produsen sudah kehabisan stok ide baru, kembali lagi ke model lama, cuma dipoles dikit -misal pakaian- atau promosi diskon besar-besaran.
     Saya tak cerita dulu ini, katanya PR terbesar manusia adalah menemukan dirinya sendiri. Gimana ini? Gimana cara menemukan diri sendiri yg bener-bener otentik? Sedangkan diri kita ini selalu mlayu rono-rene keseret barang anyar (read: lari sana-sini terbawa barang baru). Masak harus menolak, kampanye besar-besaran, pakai #tolakbarangbaru, ya ndak mungkin.. Kelihatannya malah jadi garis keras, ngeri. Selain itu, sudah kodrat kalau manusia suka berinovasi, yg baru tadi, tambah sulit ini...
     Kalimatnya gini, kita suka dengan yg baru-baru, tapi kalau terbuai kebaruan kita akan kewalahan karena tidak ada habisnya dan tidak akan ketemu dengan kita yg asli, padahal PR terbesar kita adalah sadar siapa kita. Gitu ? Kira-kira gitu. 
     Jangan salahkan kebaruan, itu kan memang sudah pasti, jelas harus ada. Yg harus dilakukan adalah menampung kebaruan. Jadilah lautan, yg menampung semua bentuk kebaruan. Tapi jangan pernah membiarkan kebaruan menjadi diri kita, biarkan dia menjadi bagian dari kita... Naa, kata kuncinya 'bagian dari diri kita'. Tidak perlu menutup diri, selalu sadar saja bahwa itu hanya bagian. 
     Selama kita sadar itu bagian dari diri kita, aman sudah. Kita akan kuat sebagai individu, kelompok, bahkan bangsa. Kita akan tahu apa yg dibutuhkan. Akan punya sikap, akan ketemu siapa diri kita sebenarnya, tapi tidak buta akan inovasi. Yg lama kan belum tentu jelek. 
     Selamat menyongsong tahun baru dan kebaruan lainnya, tetap pede, dan jangan minder jadi kita.. iya kita.... 
     

Jumat, 16 Oktober 2015

The Puno On The Way (Punakawan OTW)



                Di antara beberapa cecekan rokok, hehe. Saya mengawali lagi obrolan yang kemarin sempat berakhir. Masih berputar pada wayang, masih soal Punakawan. Mari dikupas lagi memori tentang Punakawan, kita diskusikan apa saja yang kita tahu tentang Punakawan. Kemarin, saya sudah coba bahas dikit-dikit tentang Om Semar, kali ini ganti pada anak-anak angkatnya, Gareng, Petruk, sama Bagong.
                Gareng, Petruk, Bagong... Jelas jauh dari kata tampan. Bahkan jika dikatakan mereka itu jelek, itu merupakan sindiran bagi mereka. Perawakannya lebih pantas disebut unik, tidak seperti umumnya manusia. Ya, memang mereka bukan manusia pada mulanya. Masing-masing dulunya adalah raja jin. Mereka sakti, mereka mampu memporak-porandakan kahyangan dengan polahnya yang ugal-ugalan. Kenapa mereka akhirnya menjadi anak Semar? Karena hanya Semar yang sanggup membuat mereka bersimpuh tanpa daya. Mungkin hanya dengan kentut Semar yang simpel, mereka takhluk tanpa syarat. Selanjutnya mereka mengabdikan diri pada kebaikan, manut dengan petuah Semar dan ikut menjadi pamong bagi Amarta.
                Di sinilah mulanya Gareng, Petruk, Bagong berproses, dari Diyu yaitu keburukan, memasuki Pangruwating, maksudnya berpsoses menjadi lebih baik, menuju kebenaran yang sebenarnya, menuju kesejatian hidup, nyawiji atau menjadi satu dengan dimensi Sang Khalik.
                Proses, dari rupa menuju makna, dari raga menuju rasa, dari dua menjadi nyawiji tentu berbeda pada setiap individunya. Digambarkan oleh Punakawan, pemikiran antara Gareng, Petruk, Bagong tentunya berbeda, sikap mereka dalam menghadapi kasus kehidupan tentu juga lain. Tapi pegangan mereka sama, yaitu menuju kebenaran yang tunggal, menuju Tuhan, terus mencari Tuhan dan suatu saat Tuhan akan menyambangi mereka.
                Pelajaran ini yang sebenarnya ingin Punakawan sampaikan pada tiap kesempatan, saat mereka tampil dalam pergelaran wayang, atau pergelaran budaya lainnya. Nilai ini pula yang terkandung dalam Serat Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sastra jawa kuno yang mengajarkan kearifan untuk kehidupan. Bagaimana kita menghargai proses, mencintai proses, bahwa kita hidup itu adalah juga proses.Tak akan ada manusia yang ideal, manusia yang paling benar, karena kita adalah individu yang sama-sama sedang dalam proses.
                Perjalanan manusia dari rupa menuju makna, bisa disebut ngabstrak, tidak jelas bentuknya, tapi dengan berkali-kali turunan dan persamaan, akan terlihat polanya, akan muncul sebab akibat, makna hidup akan sedikit demi sedikit terlihat. Tentu membutuhkan waktu, dan memang manusia ada dalam kuasa proses, hasil tentu bukan kuasa kita.
                Berkaca pada Punakawan, mereka mulanya adalah angkara murka yang akhirnya mengabdi pada kebaikan. Memang dunia nyata pun bisa seperti itu, keburukan tak selamanya buruk. Tokoh filsuf biasa berkata, bahwa keburukan itu tidak ada, kalaupun keburukan itu ada, disebabkan karena tidak adanya kebaikan. Jika kebaikan dimunculkan, jika kebaikan sudah ditemukan maka akan dengan sendirinya keburukan itu sirna, mlipir, dan memang begitu kenyataannya.
                Laaaa, sayangnya, kita sekarang hidup pada waktu di mana kita diajarkan untuk mengutuk keburukan. Ya jelas saja percuma, kita hanya bisa mengutuk barang yang tidak ada. Mau dikutuk sampai kapan itu keburukan? Ya tetap saja percuma.
                Sudah jelas permasalahan kita sekarang, kenapa banyak orang yang semakin sibuk mengkafirkan orang lain, jawabannya ada di atas.Hehe.
                Angkara murka memang dihakikatkan untuk timbul di dunia. Kadang angkara murka mampir pada segelintir atau banyak orang. Manusia berbuat baik pada sang angkara murka bukan lagi hal yang mungkin dilakukan, tapi harus dilakukan. Bahwa se-angkara apapun suatu hal, selalu ada waktu dimana dia akan berproses menuju pangastuti atau kebajikan.
                Akhirnya, sari dari huruf-huruf di atas adalah PROSES. Karena kita sedang berproses maka tetaplah meminta, “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”, seperti yang ada dalam Al-Fatihah. Saran saya untuk mereka yang sudah jago mengkafirkan orang lain, yang sudah pinter bakar tempat ibadah.., jangan lagi sholat, jangan ke gereja, jangan ke pura, jangan ibadah, jangan berbuat baik. Sudah hidup saja, wong hidup sampean udah bener kan? Heheheuu

Minggu, 20 September 2015

Wayang Demo Krasi



                Semula saya hanya sering mendengar, atau membaca. Lalu masuk ke fase selanjutnya mulai geli, gatal, dll. Kurang nyaman ketika mendengar kata demokrasi – bukan karena anti demokrasi – tapi lebih karena penggunaannya yg tidak sesuai esensinya, hanya dijadikan legitimasi dan perpanjangan tangan dari kampanye (biasanya).
                Heheh, sedikit lebih berat dari tulisan saya yg lalu-lalu, tapi ini bukan karena saya sedang kurang tidur tapi karena saya sudah tidak bisa menahan gatal.
                Demokrasi, muaranya dari kata Yunani. Mungkin sudah lama bergentayangan, mondar-mandir di ruang semesta bahkan sebelum istilah ini ditemukan. Beberapa cerita kuno sudah mengucurkan sedikit cairan esensi demokrasi pada alurnya, padahal istilah demokrasi belum masuk di kamus dunia. Karena terpengaruh cerita wayang, maka ini kali saya ambil wayang sebagai contoh cerita kuno itu.
                (jangan serius, minum dulu kopimu..)
                Entah kapan pastinya wayang ikut campur dalam dunia sastra Nusantara, namun sudah jelas bahwa wayang adalah kisah klasik dari India. Entah pula, apa yg ada dalam pikiran si pujangga jaman dulu sehingga menambah beberapa tokoh dalam pewayangan. Seperti contoh Punakawan, Semar,  Gareng, Petruk, Bagong. Saya curiga, ada niat baik dari si pujangga, dia berpesan pada kita agar jangan menerima semua hal yg masuk dengan mentah, apalagi dengan menutup mata. Sesuaikan jika itu diperlukan! Begitu pede-nya kita pada jaman dahulu, sehingga yg mulanya bukan kita, diolah menjadi kita.
                Dari wujud Punakawan, kita memperoleh pelajaran demokrasi pertama. Bahwa Punakawan sebagai replika rakyat adalah pemegang kuasa, dan diperbolehkan yg bawah mengkritik yg atas. Seperti sendok untuk makan, sendok dibawah, tapi ia leluasa me-nyendok yg di atasnya dan membawanya kemana saja..heheh.. Terlepas dari Gareng, Petruk, Bagong sebagai Pangruwating Diyu, dan Semar sebagai perwujudan Sang Hyang Ismaya itu hal lain, nanti kapan-kapan tak ajak ngobrol lagi..
                Punakawan terlihat jenaka, tapi itu hanya ampasnya saja. Berpolah seperti bocah, tak tau apa tentang apa, namun akalnya tak pernah tidak matematis. Memproses input lalu keluar sebagai output yg terbias ringan, tapi bermutu. Sehingga kritik mereka selalu sampai bukan hanya pada si pemimpin ketika bangun, tapi sampai si pemimpin tidur pun, mimpinya masih seputar kritik cerdas dari si Punakawan. Hubungannya dengan kita, pada jaman yg katanya demokrasi ini, jika sudah sepakat dengan suatu perjanjian, yaaa hendaknya saling tepo sliro-lah, tenggang rasa. Si pemimpin tidak menggunakan kekuasaan untuk menguasai, karena rakyat butuh pemimpin bukan penguasa. Pada Punakawan terlihat jika mereka mengkrtitik tidak hanya dengan pedas tapi juga cerdas. Ingat juga ketika sedang mengkritik, jangan berpikir nanti akan dibaca mereka, yg penting kritik dengan cerdas, Bung!
                Sebanding dengan Punakawan, si Bima satria kondang di kasanah pewayangan yg selalu ngoko dengan siapa saja. Dalam benak Bima, demokrasi adalah tentang kasih sayang. Bahwa kasih sayang tidak tentang tutur kata yg sopan tapi tentang hati ke hati. Dengan ngoko, tidak berarti Bima tidak menghormati dan tidak berkasih sayang, tapi lebih kepada menganggap semua manusia ya manusia. Menghormati dan berkasih sayang tidak harus dengan sopan santun. Bukti lagi bahwa wayang adalah pelajaran tentang demokrasi, para sesepuh Bima seperti Kresna juga menghargai sikap Bima yg memilih ngoko pada siapa saja. Kresna pun tahu sebenarnya Bima adalah satria penuh kasih sayang, bahkan Bima memiliki hati yg lembut walaupun badannya keras penuh otot. Hanya saja memang Bima tidak menunjukkannya dengan tutur kata. Ketika sopan santun dijadikan tolak ukur suatu penghormatan maka yg terjadi seperti sekarang, sopan santun hanya dijadikan topeng, tidak datang dari rasa, tapi cuma dari raga.
                Lalu, apa kita sekarang berdemokrasi? Jika kita masih benci dengan orang yg memilih jalan berbeda. Apa kita berdemokrasi? Jika kita menggunakan tipu daya sebagai legitimasi kuasa. Masak iya kita berdemokrasi? Kalau pengambilan keputusan dilaksanakan secara sepihak dengan dalih supaya praktis. Hehe, banyak pertanyaan yg harus kita kutip sendiri. Tapi tidak enak juga jika terlalu panjang. Mari mengutip pertanyaan dalam keseharian masing-masing. Tetap belajar menjadi Nusantara yg percaya diri, jangan mau dipaksa menjadi yg lain. Karena ayam yg mau dipaksa menjadi bebek, akan merasa bahwa dirinya bebek tapi berbadan ayam.. Heheheeu..


Rabu, 08 April 2015

Serat Centhini, Amongraga

Kekasih, sak dawaning ukur ana teka ana lunga
Ananging, sarira tansah mlampah dewe-dewe
Tak gawa raga mami, anetepi agunging Suluk
Diajeng, sliramu sing dadi kidung laras suluk punika
Ingsun ngira dalem sumingkir
Kang sejati dalem ngambara sak jroning ingsun

Kekasih, sepanjang jalan ada perjumpaan dan perpisahan
Tetapi, kita berjalan sendiri-sendiri
Kubawa ragaku menempuh kemegahan suluk
Dan kamulah tembang laras suluk itu
Kau mengira aku pergi
Padahal aku mengembara dalam dirimu